Portal Berita Seputar Gunungkidul dan Sekitarnya

TERBARU

    Ini Dia Forum Online Orang Gunung Kidul


    Citizen6, Jakarta Forum masyarakat pengguna internet di Gunung Kidul yang bernama Wonosari.com (Forum Komunikasi Online unungkidul/FKOG) merayakan ulang tahun yang ke-6 bertempat di Pendopo Embung Langgeran, Patuk, Gunung Kidul, pada Minggu 9 Maret 2014.

    Enam tahun bagi perjalanan sebuah komunitas bukanlah waktu yang singkat. Dalam konteks komunitas, usia 6 tahun adalah usia di atas rata-rata sebuah komunitas. Usia harapan hidup komunitas di Indonesia, menurut salah pakar sosial media adalah 3 tahun. Banyak komunitas yang telah meninggal dunia setelah berusia 3 tahun. Dengan demikian Wonosari.com yang menginjak 6 tahun adalah prestasi tersendiri yang layak dipertahankan.

    Selama 6 tahun berkiprah, kontribusi yang diberikan oleh Wonosari.com luar biasa. Kebanyakan kontribusi yang diberikan adalah kontribusi online, sesuai namanya Forum Komunikasi Online Gunung Kidul.Bentuk kontribusi online itu bisa kita lihat dari makin tingginya pengguna internet masyarakat Gunung Kidul dan konten-konten positif di internet yang diproduksi oleh masyarakat.
    Wonosari.com yang dulunya adalah berbentuk forum dipercaya menginspirasi tumbuhnya banyak blog, website, jejaring sosial dan layanan internet lain bagi masyarakat di Gunung Kidul.

    Dusun Nglanggeran di Gunungkidul hanya Boleh Dihuni 7 Keluarga



    Liputan6.com, Jakarta Ada yang menarik tentang Dusun Nglanggeran Wetan, RT 19/RW 04, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, DIY. Selain mengenai lokasi kampungnya yang terletak di atas puncak Gunung Api Purba Nglanggeran, kampung ini punya aturan tentang jumlah keluarga yang menghuninya. Dusun ini hanya ditempati 7 keluarga.
    Kampung ini bisa dicapai dengan kendaraan dengan jalan yang didominasi bebatuan besar  dari endapan lava gunung sejak masa purba. Sesampai di atas puncak akan terlihat ada 9 rumah yang tersusun bergandeng. Rumah dibangun dari batu bata dan listrik pun sudah teraliri.
    Aturan mengenai batas 7 keluarga yang dapat tinggal di sana memang sudah berjalan sejak dahulu. Konon jika jumlahnya tidak 7, maka sesuai kepercayaan, warga desa akan terkena tuah kehilangan keluarga dalam kematian.

    Rejo Dimulyo salah satu sesepuh desa setempat mengatakan kepercayaan ini sudah dipegang warga sejak dari zaman buyutnya. Sehingga jumlah keluarga yang tinggal di sana harus tujuh."Kalau kurang ya ditambah, kelebihan ya dikurangi," katanya kepada Liputan6.com Selasa 2 Juni 2015.

    Rejo menjelaskan bahwa dirinya memiliki 16 anak. Enam anaknya sudah meninggal. Sementara 9 anaknya harus tinggal diluar kampung yang ada  di bawah gunung. Hanya satu anaknya yang tinggal satu rumah dengannya yaitu Surono.

    Dusun Nglanggeran Wetan ini hanya ditinggali 20 orang dari tujuh keluarga. Tujuh keluarga itu terdiri dari Kartu Keluarga atas nama Rejo Dimulyo, Warso Diyono, Hardi, Dalino, Seman, Kamiyo, dan Gito. Semuanya memiliki rumah yang tersebar diantara perbukitan.

    Rejo Dimulyo mengaku tidak berani menceritakan sejarah aturan di dusunnya itu, sebab dirinya terikat dengan perjanjian  leluhurnya. "Saya tidak berani menceritakan asal usul dan sejarahnya, karena berat sanksinya. Harus ada syarat di antaranya rokok merk pompa, dan beberapa persyaratan lainnya,"katanya.

    Rejo menceritakan aturan itu pernah dilanggar oleh anak dari paman Rejo beberapa tahun lalu. Akibatnya kejadian kematian pun terjadi. Saat itu sepupunya merasa tidak memiliki tempat tinggal dan membawa satu keluarga bersama anak dan cucu diboyong pindah. Namun keluarga sudah memperingatkan agar tidak melanggar aturan itu. "Dulu pernah ada yang nekat tetapi meninggal tanpa sebab yang jelas, oleh sebab itu, dirinya dan keluarga tidak berani melawan,"katanya.

    Rejo mendapat pesan dari leluhurnya bahwa dirinya dan anak turunannya tidak perlu khawatir akan kekurangan tempat tinggal di daerah lain. Karena semuanya pasti akan tercukupi."Eyang bilang pasti punya, bahkan tidak kalah dari orang kaya. Sekarang terbukti anak cucu saya memiliki tempat tinggal meski tidak harus di sini,"ujar Rejo.

    Gelombang Laut Selatan Tinggi, Polair Yogya Sulit Patroli



    Liputan6.com, Gunung Kidul - Tinggi rata-rata gelombang laut selatan diperkirakan mencapai 3 meter. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan kondisi seperti ini berlangsung hingga Sabtu (13/6/2015).

    Kekuatan gelombang laut di perairan laut selatan ini membuat Direktorat Kepolisian Perairan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta kesulitan berpatroli. Padahal, Indonesia tengah waspada akan masuknya imigran gelap.

    "Gelombang laut selatan di DIY itu sangat besar sehingga menyulitkan petugas saat patroli," kata Wadir Polair Polda DIY, AKB Andreas Heri Susidarto, di Gunung Kidul, Minggu (7/6/2015).

    Menurut dia, Polair yang ada di sepanjang pantai selatan tidak bisa melakukan patroli setiap saat. Mereka hanya patroli sesuai kebutuhan.

    "Meski patroli pengamanan tidak intensif, kondisi perairan selatan sangat aman. Sejauh ini, tidak ada kasus pencurian ikan. Namun, petugas tetap mewaspadai kasus penyelundupan manusia," ujar Heri.

    Dia mengatakan sepanjang pantai selatan DIY ada enam pos pengaman, yakni Sadeng di Kabupaten Gunung Kidul, Pos Parangtritis, Samas, Depok, dan Kulwaru di Kabupaten Bantul, serta Pos Congot di Kabupaten Kulon Progo.

    "Berdasarkan perhitungan kebutuhan, jumlah pos Polair di pantai selatan DIY masih kurang. Misalnya di Gunung Kidul baru satu pos, idealnya membutuhkan tiga sampai empat pos pengamanan," kata dia.

    Kondisi tersebut, lanjut Heri, juga menyulitkan nelayan saat menangkap ikan.

    Sebelumnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang sering menjadi persinggahan perdagangan manusia atau imigran gelap. Terlebih, Indonesia dekat dengan Australia yang menjadi salah satu negara tujuan imigran gelap.

    Kasat Polair Gunung Kidul Ajun Komisaris Iriyanto menjelaskan patroli laut memiliki tingkat kesulitan sendiri dibandingkan darat. Patroli laut diperlukan persiapan khusus.

    "Untuk patroli laut diperlukan kesiapan yang matang seperti kondisi laut dan kapal itu sendiri," jelas Iriyanto.

    Dia menuturkan ada tiga faktor yang membuat pengawasan masih terbatas, yakni, standarisasi kapal patroli, kapasitas bahan bakar hingga kebutuhan perlengkapan teknologi kekinian.

    Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pihaknya melakukan upaya di antaranya memanfaatkan informasi nelayan.

    "Untuk kapal memang belum maksimal, kapasitas bensin 750 liter dan kami mengisi maksimal 600 liter. Dengan keterbatasan tersebut kita tidak bisa berlayar jauh," kata Iriyanto.

    Dia mengatakan patroli yang selama ini dilakukan mencapai 12 mil melebihi kewenangan seharusnya yakni empat mil. "Untuk keamanan kami berani lebih jauh," tukas Iriyanto. (Ant/Bob)

    Tebing Runtuh dan Air Pasang Hambat Evakuasi Korban Gunung Kidul

     
    Liputan6.com, Yogyakarta - Hingga Rabu malam, upaya evakuasi korban runtuhnya tebing kapur di Pantai Sadranan, Gunung Kidul, Yogyakarta terus dilakukan Tim SAR gabungan.

    Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Kamis (18/6/2015), meski sudah mengerahkan ekskavator, proses evakuasi berjalan lamban karena bongkahan tebing yang runtuh begitu besar di samping terjangan air pasang.

    Kegigihan Tim SAR akhirnya membuahkan hasil dengan penemuan 1 korban. Namun evakuasi tidak bisa segera dilakukan karena korban kembali tertimbun pasir yang terbawa air pasang. Jumlah korban dikhawatirkan bisa mencapai belasan orang.

    "Korban berdasarkan keterangan teman-teman korban sendiri sekitar 10 orang. Tapi belum bisa dipastikan apakah itu 10 bisa lebih atau kurang," ucap Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Polisi Erwin Triwanto.

    Sementara itu, 2 korban tewas yang ditemukan sebelumnya--salah satunya sudah diketahui sebagai Joko Susanto asal Magelang. Tim SAR juga menemukan 2 korban selamat yaitu Karwanti asal Gunung Kidul dan Ahmad Taufik asal Magelang.

    Peristiwa runtuhnya tebing batu kapur ini terjadi Rabu sore disaat banyak orang yang melaksanakan padusan untuk menyambut Ramadan. Tiba-tiba saja tebing kapur tempat mereka beristirahat runtuh dan menimpa tubuh mereka. Rencananya proses evakuasi akan dilanjutkan lagi pagi ini. (Mar/Mut)

    581 Orang Tersengat Ubur-Ubur di Pantai Baron Yogyakarta

     
    Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 581 wisatawan tersengat ubur-ubur saat berwisata di kawasan Pantai Baron di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama libur Lebaran 2015.

    Koordinator Tim SAR Wilayah II Pantai Baron Marjono memaparkan, pada 26 Mei 2015 kemarin saja tercatat ada 20 korban yang tersengat ubur-ubur. Jumlah korban itu tersebar di 10 pantai di kawasan Pantai Baron.

    "Pada Minggu ada 20 korban ubur-ubur tersebar di 10 wilayah pantai," kata Marjono di Gunung Kidul, DIY Senin (27/7/2015).

    Dia mengatakan, kebanyakan korban tersengat ubur-ubur atau yang dikenal juga dengan sebutan impes di Pantai Sepanjang yakni sebanyak 172 orang. Menyusul Pantai Kukup dengan jumlah 140 korban dan Pantai Pulang Sawal atau Pantai Indrayanti dengan 73 korban.

    Selain itu ada korban yang tersengat ubur-ubur di Pantai Krakal, yakni sebanyak 49. Lalu Pantai Nguyahan sebanyak 44 korban, Pantai Drini 35 korban, Pantai Poktunggal 10 korban, Pantai Ngrenehan 5 korban, dan Pantai Sadranan 3 korban.

    "Korban ada yang diobati di lokasi kejadian dan juga dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pengobatan," ucap Marjono.

    Sekretaris SAR Limas Baron Surisdiyanto menambahkan, banyak di antara korban yang tak tahan dengan sengatan ubur-ubur tersebut. Bahkan kulit mereka seakan terbakar.

    Selain tersengat ubur-ubur, kata dia, ada pula 4 wisatawan yang terseret ombak saat bermain di pantai. Ini karena tidak mengindahkan peringatan petugas yang melarang mereka mandi di laut.

    "Korban berhasil diselamatkan tim SAR, meskipun sudah terseret beberapa meter ke tengah laut," tandas Surisdiyanto. (Ndy/Ali)

    Korban Tewas Tebing Runtuh di Pantai Gunung Kidul Jadi 4




    Liputan6.com, Yogyakarta - Tercatat 6 korban runtuhnya tebing karang di sebelah barat Pantai Sadranan, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah dievakuasi. 4 Dari 6 korban yang dievakuasi ditemukan dalam keadaan tewas.

    "Update kita evakuasi 6 orang. 4 Meninggal dan 2 luka. Yang luka ada di Rumah Sakit Wonosari," ujar Kapolres Gunungkidul AKBP Hariyanto di Yogyakarta, Kamis (18/6/2015).

    Dia mengatakan, jajarannya masih berusaha mengidentifikasi para korban tewas itu. Sementara proses evakuasi untuk mengeluarkan korban yang diduga masih terjebak di balik reruntuhan pun terus berlangsung.

    "Belum bisa memastikan  kita tidak mau memperkirakan berapa yang masih di dalam. Evakuasi masih terus dilakukan," tutur dia.

    Dia pun mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya untuk melapor ke aparat setempat.

    Hariyanto mengungkapkan, sempat terjadi kesalahan teknis dalam proses identifikasi korban. Seperti yang terjadi pada M Taufik. Sebelumnya Taufik dikabarkan sebagai korban tewas. Namun ternyata Taufik diketahui selamat.

    "Taufik selamat, luka berat," ujar dia.

    2 Korban yang selamat dari reruntuhan tebing tersebut, yakni Kasiyem, warga Karangmojo, Gunung Kidul. Dia mengalami patah kaki akibat tertimpa reruntuhan.

    Korban lainnya bernama Ahmad Taufik. Warga Logandeng, Ngablak, Srumbung, Magelang itu mengalami luka sobek pada paha kiri sehingga tulang paha kirinya patah.

    Korban meninggal diketahui atas nama Joko Susanto warga Logandeng, Ngablak, Srumbung, Magelang. Sementara tiga lainya masih dalam proses identifikasi jenazah.

    Tebing setinggi 10-12 meter di Pantai Sadranan runtuh pada Rabu 17 Juni 2015 sekitar pukul 15.00 WIB. Reruntuhan tebing berukuran besar tersebut menimpa wisatawan yang saat itu tengah beristirahat di bawahnya.

    Jumlah korban terjebak masih simpang siur. Diduga ada 10-11 orang terjebak di bawah tebing tersebut. (Ndy/Sss)

LAIN LAIN